HIhi aneh kan judulnya?? Emang!! Seminggu yang lalu saya (akhirnya) dikrim untuk mengikuti training safety di Merak. Namanya “T” BOSIET, ini rupanya general requirement buat pekerja lapangan khususnya offshore rig. Setelah Pak Harry (senior saya di kantor) ‘ngipas-ngipasin’ si bos buat kasi kita orang training tersebut, dengan menunjukkan aturannya “lembaga yang berwenang, B*M****S” si bos dengan terpaksa mengabulkan keinginan bawahannya yang pada udah ga sabar pengin di cemplunging ke laut
Singkat kata akhirnya berangkatlah kami, saya dan tiur untuk mengikuti 3 hari pelatihan di Merak. Senin shubuh, kami mendahului matahari bangun dan brangkat, diangkut bus langsung menuju tempat latihan bersama 11 orang trainee lainnya. Sampai di sana kita disambut kolam renang dua kedalaman, 1 dan 3 meter. Seorang pelatih (selanjutnya di sebut pak Heri) menyambut dan mempersilahkan kami makan hidangan penghangat perut pagi itu. 15 menit kemudian kita masuk klas dan langsung diberi pelatihan tahap awal. Setelah pemantapan teori, dan lalu praktek langsung. Kamu pun diangkut menuju laut…siap siap mabuk ;p Di piinggir semacam geladak kami diberi scenario:
Rig dalam keadaan darurat dan lalu kami harus mempraktekkan teori yg tadi pagi dipelajari. Pergi ke muster station setelah melengkapi diri dg PPE dan meng-absen diri. Waktu itu pertama kalinya saya benar-benar masuk TEMPSC. Perahu bentuk kapsul yg harus selalu ‘hadir’ di setiap anjungan laut, gunanya untuk penyelamatanjika sewaktu-waktu anjungan dalam keadaan darurat (terbakar, tertabrak atau meledak). Setelah bergoyang goyang dalam perahu kapsul selama 10 menit (cukup membuat Tiur puyeng he he) dan lalu pelatihan pertama di-jeda makan siang dan check-in di cottage.
Setelah makan siang, kami masing-masing langsung menuju cottage, walakh! Gedew banget, satu ruang tidur, satu ruang tamu, satu dapur lengkap dengan alat masak dan kitchen set, plus prabotan seperti kulkas, dispenser, meja makan, sofa malas, double bed..ck ck ck lebih seru klu kluarga ngikut niy ;-p
Cottage kami menghadap ke jalan (harapnya sih madep laut langsung ;p) tapi gitu aja alhamdulillah he he.
Setelah bermalas-malas sejenak, kami semua kembali ke tempat pelatihan. Kali ini Sea Survival
Sea survival, intinya menyelamatkan diri di laut. Lanjutan latihan TEMPSC, setelah escape from disaster, what to do next? GImana kalu kita pake live raft, gimana caranya survive klu bantuan blum datang dalam jangka waktu yg kita perkirakan, gimana ngirim sinyal minta bantuan, gimana menyelamatkan diri klu ga ada live raft dll. Seru, menegangkan dan menyenangkan tentunya. Yang paling seru waktu latihan terjun. Lompat dari ketinggian 3 meter. Kayaknya siy cetek…padahal, cukup bikin lutut lemez dan mulut komat-kamit, berdoa biar selamet hihi walhasil saya jadi penerjun terakhir yang akhirnya mau dipaksa terjun karena tangga naik sudah disingkirkan (teganya!).
Sesi terjun mengakhiri sesi pelatihan hari pertama, kami pulang ke cottage dan menunggu waktu makan malam. Karena kelelahan, saya tertidur dan terbangun saat adzan maghrib dengan sedikit kecewa karena terlewat melihat senja ;(
Untuk mengobatinya saat malam saya nogkrong di depan geladak memandangi kelap-kelip lampu kapal nelayan yang pergi melaut, tampak beberapa kapal bersinarbenderang, rupanya kapal penumpang yang akan menyebrang ke sumatera, kebetulan daerah itu memang dekat pelabuhan merak. Dan malam itu diakhiri dengan tidur lelap ditemani 2 kerlip bintang..

Hari ke II
Pelatihan hari ini, HUET (Helicopter underwater Escape Training). 5 tahun lalu saya pernah melakukannya. Cukup membuat detak jantung bertambah 2 kali kecepatannya. Bayangkan saja dalam situasi, helicopter yang kita tumpangi harus melakukan emergency landing, sukur-sukur klu masih dalam keadaan normal, dan pelampungnya bekerja baik sehingga coper tetap dalam keadaan berdiri normal. Tapi karena baling baling dan mesin coper biasanya ada di bagian atas, maka saat mendarat darurat, bagian yg berat tentunya akan mengikuti hokum gravitasi dan bisa dibayangkan keadaan coper akan berbalik 180 derajat alias, kepalanya di bawah weleh… masuk dalam air pula. Dan dalam kenyataannya biasanya suhu airlaut di perairan indonesia masih berkisar 18-20o (itu saja sudah cukup membuat saya hypiothermia) apalagi di north sea atau middle east..weleh hitungan suhunya minus oC …Pelatihan ini terbagi dalam berberapa setting. Jadi kami dicelupkan dalam kolam sekitar 5 kali untuk dapat melepaskan diri dari helicopter yang tenggelam terbalik, plus percobaan dua kali untuk test nafas dan tingkat kepanikan
Sebelum melakukan latihan, kami masing masing di periksa tekanan darah dan kondisi tubuh, dan hasilnya denyut nadi saya bertambah sekitar 2 kali hitungan, wax! Ketauan banget deg degannya. Alhamdulillah kami semua dapat melewati pelatihan dengan baik, tanpa kepanikan yag berarti ;p Hanya saja saat kami meninggalkan tempat latihan, air kolam terlihat berkurang beberapa senti..he he bisa diduga duong kemana mengalirnya air kolam itu ;p
Pelatihan hari kedua berakhir dengan cukup sukses disertai kelehan yang sangat, kami pulang dan beristirahat. Keluarga saya hari itu datang berkunjung, senangnya bertemu si kecil dan hubby tercinta kami menghabiskan waktu menikmati semburat jingga senja di geladak..ah adakah nikmat yg lebih??

Hari III
Hari terakhir pelatihan, diisi dengan teori yg agak membosankan mengenai fire fighting, menyelamatkan diri dan menggulangi kebakaran. Mempelajari jenis api dan cara memadamkannya termasuk komponen pemadam dalam fire distinguisher.. seru! Kalau kemarin kami berbasah-basah, kali ini kami berpanas-panas dan mandi keringat.
Seperti biasa, untuk memastikan pemahaman terhadap materi pelatihan, kami diberi tes yg cukup mudah, karena semua materi memang sudah diajarkan selama 3 hari ini.
Dan tiba saat perpisahan..terima kasih untuk teman sesama trainee, yang banyak membantu dan memberi inspirasi (please read my next writing tentang boombasticnya orang-orang ini), para pelatih; ibu elsi, pak heri, pak edi, dan lain-lain (maaf tidak disebut satu-satu) last but not least MERAK atas semburat jingga senjanya yg indah..rasanya otak saya segar kembali, dan siap menghadapi Jakarta dengan rutinitas dan hiruk pikuknya
(photo diambil dari SEa Survival Website) August 29, 30, 31 2005